Mahasiswa bukanlah buruh yang terdidik untuk mencapai tingkatan yang diharapkan dari segelintir orang di kampus saja, melainkan orang pilihan yang mendapat amanah dari rakyat sebagai jembatan antara rakyat dan birokrasi di negeri ini. Kalau mahasiswa hanya menghabiskan aktivitasnya untuk "study oriented" saja maka rasanya kurang afdhol untuk menggapai "Tri Dharma Perguruan Tinggi" yang mana kalau dikaji satu per satu akan memiliki trilogi ekspektasi yang besar untuk negeri ini.Yang pertama adalah pendidikan, poin yang sangat vital bagi suatu bangsa dalam menggadapi perubahan zaman. Mahasiswa dengan tataran pendidikan yang paling tinggi diharapkan mampu memberikan kontribusi yang besar dalam membangun peradaban yang besar sebagai jati diri bangsa. Poin kedua adalah penelitian, bangsa yang maju bukanlah bangsa yang hanya menjadi bangsa yang konsumtif, melainkan bangsa yang selalu memberikan dinamisasi untuk mengembangkan riset dan observasi di segala lini dan menghasilkan generasi yang produktif. Dan hal inilah yang menjadi kewajiban mahasiswa dalam memberikan suatu gagasan untuk perkembangan penelitian guna mencapai kebutuhan bangsa sehingga terhindar dari sifat konsumtif. Poin yang terakhir adalah pengabdian. Pengabdian di sini bukanlah pengabdian hanya untuk dosen, jurusan dan kampus saja, namun pengabdian dalam artian luas adalah untuk memberikan sumbangsi dalam melihat kondisi riil sosial dan selalu turun tangan (bukan hanya urun angan). Mahasiswa dituntut untuk peka terhadap kondisi sekitar, peduli terhadap masyarakat dan berpartisipasi dalam memperjuangkan pancasila sebagai landasan ideologi NKRI.
Idealisme mahasiswa kadang kala menjauh dari pemahaman tiga poin di atas secara masif. Mahasiswa cenderung melupakan poin yang ketiga sebagai insan pengabdi. Padahal negeri sangat membutuhkan pemuda-pemuda yang menjadi tulang punggung rakyat ini. Karena pemuda yang dinamai dengan sebutan mahasiswa inilah negeri ini mengalami berbagai macam revolusi rezim kepemerintahan, karena keberanianya lah Indonesia terhindar dari intervensi asing yang sedang melakukan konspirasi di negeri ini. Kalau mahasiswa melupakan hal ini bagaimana bisa mempertahankan kemerdekaan yang dideklarasikan dengan susah payah dan penuh perjuangan?
Banyak sistem pendidikan di Indonesia yang hanya memperhatikan indikator sukses atau tidak dari segi output mahasiswa adalah penerimaan kerja. Mahasiswa dikatakan sukses apabila sudah bekerja dalam perusahaan yang besar, mewah dan memiliki embel-embel relasi dengan perusahaan internasional. Sehingga dalam menjalankan pendidikan perkuliahan akan selalu mendapatkan diktum dari pengajar untuk selalu menuju ke arah yang sudah ada dan terbukti hasilnya. Dan untuk merealisasikan hal itu adalah dengan belajar tekun dan rajin, itulah salah satu doktrin yang diberikan kepada mahasiswa. Belajar dengan rajin dan tekun itu boleh saja karena itu adalah kewajiban kita juga sebagai insan akademisi, asalkan jangan hanya belajar untuk kepentingan diri kita saja. Belajarlah untuk memberikan yang terbaik pada bangsa ini, karena jangan menjadi pembelajar yang hanya belajar di ruang kelas saja tapi belajarlah juga di luar kelas untuk mengetahui fenomena yang terjadi di Negeri ini. Jangan menjadi mahasiswa yang oportunis dan pragmatis, tapi jadilah mahasiswa yang reformis, produktif dan berkarakter. YAKUSA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
8-)
BalasHapus