Pengetahuan (knowledge atau ilmu )adalah
bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari
"berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia
( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu
hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan " barangkali "
keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Lalu apa yang
telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa
yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang
ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena
pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah
masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah
dengan pisau ilmu, maka menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh
karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi
sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya
menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga
pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan
manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Atas dasar itu,
manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu
membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri.
Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi
(teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). Epistemologi menjadi
sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu
dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini
sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Namun belakangan beberapa pemikir
dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus.
Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela
buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sangat menaruh perhatian
yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi.
Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala
hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Adalah
Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa
yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan
dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Mereka mencoba mencari
alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu,
bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang
kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah
ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah
lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan
lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya,
Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya.
Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti
itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan
berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi
itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu
dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Dapat dikatakan
bahwa perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.
Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini
barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti
pecinta pengetahuan. Konon yang pertama kali menggunakan kata
"philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) Dia menggunakan
kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia untuk disebut
pecinta pengetahuan. Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa
orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka
pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi
kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada.
Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu
terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar
dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini,
Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu
ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam
upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis.
Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan
lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan
berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang
dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat
teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan
alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu
eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat
praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial
dan politik. Filusuf adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu
pengetahuan tadi.
Mungkinkah Manusia itu Mempunyai Pengetahuan ?
Masalah epistemologis yang sejak dahulu dan juga sekarang menjadi
bahan kajian adalah, apakah berpengetahuan itu mungkin ? Apakah dunia (baca:
realita) bisa diketahui ? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Tetapi
terdapat beberapa orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan
pengetahuan. Misalnya, bapak kaum sophis, Georgias, pernah dikutip
darinya sebuah ungkapan berikut, "Segala sesuatu tidak ada. Jika
adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa
diinformasikan."
Sementara itu Pyrrho salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa
manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan
akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak
kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa. Mereka
mengatakan satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Jika demikian adanya,
maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya ? Demikian pula halnya
dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas
bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak
mungkin semua benar pasti ada yang salah.
Dan untuk menghadapi orang semacam ini menurut Ibnu Sina ada cara
lain yang lebih efektif, yaitu pukullah mereka. Kalau dia merasakan kesakitan
berarti mereka mengetahui adanya sakit (akhir dawa' kay).
" Cogito,
ergosum "-nya Descartes.
Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup
berjasa dalam membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr
memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah
mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan
bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak
dari keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya
terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi
dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya adalah indra dan akal. Ternyata
keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberika hal yang
pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala sesuatu bisa diragukan,
tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini
dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpikir. Ungkapannya yang populer
dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya adalah " Saya berpikir
(baca : ragu-ragu), maka saya ada ".
Keraguan al
Ghazzali.
Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap
realita, namun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan
tashawwuf. Perkataannya yang populer adalah " Keraguan adalah kendaraan
yang mengantarkan seseorang ke keyakinan ".
Sumber Dana
Alat Pengetahuan.
Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah
yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang
berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausaliltas
bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang
sifatnya aksidental -baik menurut teori recolection-nya Plato, teori
Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan
filsafat-materialisnya kaum empiris- dan pasti mempunyai sebab atau sumber.
Tentu yang dianggap sebagai sumber pengetahuan itu beragam dan berbeda
sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pemikiran manusia. Selain pengetahuan
itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika hendak mengadakan kontak dengan
sumber-sumber itu, maka dia menggunakan alat.
Para filusuf Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat
pengetahuan, yaitu :
- Alam tabi'at atau alam fisik
Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia
tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan
hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya
materi pula, yakni indra (al hiss), karena sesuatu yang materi tidak
bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Dengan demikian, alam
tabi'at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang "barangkali"
paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya
tabi'at. Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun
indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup.
Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan
untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal.
- Alam Akal
Kaum Rasionalis, selain alam tabi'at atau alam fisika, meyakini
bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai
alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat
pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau
memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah
adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya.
Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada.
- Hati dan Ilham
Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga
sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi
tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada
lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang
inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal
atau hati. Dan yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah
penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti
rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya
diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.
Syarat dan Penghalang
Pengetahuan.
Meskipun
berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal
yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya.
Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan,
yaitu :
1)
Konsentrasi
Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan)
indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan
mengetahui apa yang ada di sekitarnya.
2)
Akal yang sehat
Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik.
Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan
yang tidak benar.
3)
Indra yang sehat
Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak
mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya.
Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan
pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan daat dimiliki lewat
hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan
hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi,
mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan sayr dan suluk.
Seorang yang hatinya seperti itu akan terpantul di dalamnya cahaya Ilahi dan
kesempurnaanNya.
Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka pengetahuan akan
terhalang dari manusia. Secara spesifik ada beberapa sifat yang menjadi
penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, taqlid buta (tanpa dasar
yang kuat), kepongahan karena ilmu, jiwa yang lemah (jiwa yang mudah
dipengaruhi pribadi-pribadi besar) dan mencintai materi secara berlebihan.
Wal
hamdulillah awwalan wa akhiran.
p Makalah adalah hasil resume
dari makalah Ust. Husein al-Kaff dalam http://members.tripod.com/aljawad/artikel/filsafat_ilmu.htm
dan
sebagai bahan kajian pada dis-pok “Syeikh Siti Jenar club.”
0 komentar:
Posting Komentar